Lompat ke konten

The Connecting Leader: Kolaborasi di Era Cerdas dari Davos 2025

Setiap tahun, para pemimpin dunia dari berbagai sektor—bisnis, pemerintahan, akademisi, dan masyarakat sipil—berkumpul di Davos, Swiss, untuk World Economic Forum. Pada tahun 2025, tema yang diusung adalah “Collaboration for an Intelligent Age” (Kolaborasi untuk Era Cerdas). Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan pengakuan bahwa tidak ada satu entitas pun—betapapun besarnya—yang dapat menghadapi kompleksitas dunia saat ini sendirian.

Dari diskusi-diskusi di Davos, muncul konsep “The Connecting Leader”—pemimpin yang kemampuannya terletak bukan pada memiliki semua jawaban, melainkan pada kemampuan untuk menyatukan orang-orang yang tepat, dari berbagai latar belakang dan keahlian, untuk bersama-sama mencari solusi. Jenni Hibbert dari Heidrick & Struggles, yang merangkum pembelajaran dari Davos 2025, mencatat bahwa kemampuan untuk berkolaborasi, mencari dukungan di area di mana keahlian pribadi kurang, dan menyatukan orang yang tepat untuk setiap tantangan telah menjadi keahlian yang jauh lebih vital bagi kepemimpinan modern.

Mengapa kolaborasi menjadi begitu penting sekarang? Jawabannya terletak pada meningkatnya kompleksitas dan saling ketergantungan. Geopolitik bukan lagi sekadar konteks bisnis; ia adalah faktor real-time yang secara langsung memengaruhi cara perusahaan beroperasi. Ketegangan politik, disrupsi rantai pasok, dan perubahan regulasi terjadi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak CEO menghadapi realitas ini untuk pertama kalinya dalam kehidupan profesional mereka.

Dalam ekosistem semacam ini, pemimpin tidak bisa lagi mengandalkan model lama di mana semua keputusan mengalir dari atas ke bawah. Mereka perlu menciptakan ekosistem kolaborasi yang melampaui batas-batas organisasi tradisional.

Karakteristik “The Connecting Leader”

  • Rasa ingin tahu yang mendalam dan keterbukaan untuk terus belajar. Davos 2025 menegaskan bahwa pemimpin efektif adalah mereka yang memiliki growth mindset dan tidak pernah berhenti menjadi pembelajar yang rakus.
  • Keberanian untuk melakukan sesuatu secara berbeda. Inovasi membutuhkan keberanian untuk menantang status quo, yang dilandasi oleh tujuan yang kuat.
  • Menjadi pemimpin yang melayani (servant leader) sekaligus pemimpin yang aktif. Memberdayakan tim untuk berpikir mandiri, namun hadir memberikan arahan ketika dibutuhkan.
  • Humor adalah esensial. Dalam lingkungan bertekanan tinggi, kemampuan menyuntikkan humor yang tepat dapat mencairkan ketegangan.

Salah satu area di mana kepemimpinan kolaboratif paling dibutuhkan adalah dalam implementasi AI. Heidrick & Struggles menemukan bahwa pada tahun 2024, 82% eksekutif yang bertanggung jawab atas AI atau machine learning secara langsung dilibatkan dalam pembentukan strategi bisnis. Namun, masih ada kesenjangan adopsi yang lebar: perusahaan menyediakan alat dan pelatihan, tetapi orang-orang tidak secara universal menggunakannya. Di sinilah “connecting leader” dapat membuat dampak yang signifikan.

Sumber: World Economic Forum Davos 2025; Heidrick & Struggles, “Insights from Davos 2025”.

Ready to Transform Your Leadership?

Join ratusan leader sukses yang telah mengikuti Powerful Leader Training di Semarang

Hubungi Kami Sekarang → PELATIHAN LEADERSHIP SEMARANG

Untuk Diskusi Kebutuhan Pelatihan Kepemimpinan / Leadership Training di Institusi anda :